Selasa, 12 Juni 2012

klarifikasi!!

semua yang saya lakukan adalah karna setiap saya beri kesempatan untuk bisa berteman dengan akun jejaring sosial saya, selalu ada saja masalah, entah siapa yg mulai.. akan sangat lebih baik jika anda itu tidak perlu  tau  aktivitas saya.. karena anda selalu menyimpulkan "sok tau" OK!

Jumat, 23 Maret 2012

Demokrasi Menghinakan Perempuan



Demokrasi Menghinakan Perempuan

Oleh: Ir. Lathifah Musa, Anggota Pimpinan Muslimah DPP HTI.

Demokrasi, Kemuliaan Perempuan dan Kesetaraan

Perempuan dalam wacana demokrasi adalah sosok yang setara dengan laki-laki, yakni sebagai individu yang berdaulat penuh atas dirinya. Pandangan terhadap perempuan harus tegak di atas prinsip kesetaraan yang adil. Yang dimaksud adil adalah tidak membedakan manusia atas dasar fungsi reproduksi. Dengan demikian, tidak diterima adanya pembagian fungsi dan peran dalam struktur sosial masyarakat, termasuk dalam keluarga.

Perbedaan dalam organ reproduksi seperti kemampuan rahim untuk mengandung dan melahirkan anak atau kemampuan menyusui, tidak berarti mendudukkan perempuan pada peran reproduksi semata. Perbedaan ini hanya dipandang sebagai hak perempuan menjalankan peran reproduksi, tetapi bukan kewajiban. Dengan demikian, wacana yang berkembang dalam alam demokrasi adalah betapa tidak adilnya ketika perempuan harus menjalankan peran sebagai ibu, pengasuh anak kecil, pengelola rumah tangga dan berbagai aktivitas domestik lainnya. Kondisi ini dipandang menghambat ketidaksetaraan dalam upaya meraih peran di sektor publik.

Indikator Keberhasilan: Kebebasan Perempuan

Persoalan perempuan seperti kemiskinan, kebodohan, kekerasan terhadap perempuan, perdagangan perempuan dan lain sebagainya dipandang berawal dari tidak adanya peran perempuan dalam kebijakan pengelolaan sistem masyarakat. Dominasi peran laki-laki di sektor publik menyebabkan kepentingan perempuan terpinggirkan. Kebijakan yang dilahirkan dipandang tidak memperhatikan kepentingan perempuan. Sulit memahami adanya sensitivitas kaum laki-laki untuk mengerti dan memahami apa yang diinginkan perempuan. Dengan demikian, perjuangan yang dianggap paling berhasil untuk mengubah kebijakan agar berpihak pada perempuan adalah dengan mendudukkan perempuan dalam penentu kebijakan, khususnya di legislatif dan eksekutif.

Persoalannya, perjuangan membela kepentingan perempuan ini sering terganjal kultur masyarakat dan nilai-nilai agama (khususnya Islam) yang menempatkan perempuan secara dominan di sektor domestik. Apalagi Islam memberikan keterbatasan ruang bagi seorang perempuan untuk berkiprah di sektor publik. Misal: adanya kewajiban untuk meminta ijin pada suami ketika keluar rumah, keharusan adanya mahram untuk menemani safar, atau larangan berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram-nya yang dipandang menghambat kebebasan perempuan untuk keluar rumah.

Prinsip kebebasan yang merupakan hal mendasar dalam demokrasi akhirnya membuat pandangan terhadap agama pun harus ditundukkan dalam perspektif kebebasan manusia; manusia bebas memberikan pandangan apapun terhadap apapun, bahkan agama sekalipun. Kedaulatan di tangan manusia memberikan ruang bagi akal untuk menetapkan penilaian dan aturan. Apa yang baik bagi manusia menurut pandangan manusia, harus didukung oleh agama.

Inilah sebabnya mengapa hal yang dipandang strategis untuk mengatasi hambatan kultural (yang bersumber pada ajaran agama Islam) yang tidak berpihak pada perempuan adalah mengubah terlebih dulu cara pandang keagamaan, khususnya yang terkait dengan perempuan. Nash-nash yang menguatkan posisi perempuan dalam peran kerumahtanggaan harus ditinjau kembali penafsirannya agar sesuai dengan cara pandang demokrasi. Nash-nash yang mengokohkan peran perempuan sebagai ibu dan istri harus direvisi penafsirannya agar tidak menghambat kebebasan perempuan untuk berkiprah di sektor publik. Nash-nash yang menggunakan kata setara, seperti dalam QS al-Hujurat ayat 13 (yang artinya), “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa,” diambil pesan kesetaraannya (al-musawwah). Kemudian al-musawwah ini menjadi kaidah untuk menafsirkan nash-nash al-Quran dan hadis yang lain, bahkan bisa menjadi alasan untuk me-naskh (menghapus) ayat-ayat yang dipandang tidak sesuai dengan tafsiran kesetaraan ala demokrasi.

Menafikan Kemuliaan Wahyu

Cara pandang demokrasi telah jelas menolak kebenaran dan kemuliaan wahyu Allah Swt. Agama dipandang tidak layak dan tidak relevan untuk mengatur persoalan perempuan. Sekalipun kalangan pejuang kebebasan perempuan menggunakan dalih agama sebagai sumber dalam merumuskan nilai-nilai luhur bagi seluruh manusia, pada hakikatnya mereka sama sekali tidak meyakini kebenaran agama untuk mengatur manusia. Agamalah yang harus tunduk pada kemauan manusia.

Wajar saja, dengan alasan demokrasi, di Indonesia pernah mengemuka usulan semacam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) yang mengusulkan kebolehan kawin mu’tah; perempuan boleh menikah tanpa wali; Muslimah boleh menikah dengan non-Muslim; poligami diharamkan; anak di luar nikah juga memiliki hak waris dari ayah biologisnya. Semuanya mengatasnamakan penafsiran agama. Padahal semua itu sama sekali tidak merujuk pada nash-nash keagamaan. Bahkan yang terjadi justru memanipulasi penafsirannya.

Dalam demokrasi pun menguat usulan untuk tidak mengatur urusan pornografi dan pornoaksi, melegalkan aborsi tanpa alasan apapun, melokalisasi prostitusi, membiarkan hubungan sejenis seperti homoseksual dan lesbian, dll.

Demokrasi mendorong kaum perempuan untuk berjuang sendiri di legislatif dan eksekutif. Perempuan harus memperjuangkan aspirasinya sendiri. Perempuan harus berjuang agar kebijakan yang digulirkan negara berpihak kepada kaum perempuan.
Dalam demokrasi, perempuan berhak tidak mau hamil, tidak menyusui anaknya, meninggalkan bayinya kapan pun ia mau, tidak perlu taat pada suami, tidak terikat dengan pekerjaan rumah tangga dan bebas berinteraksi dengan laki-laki manapun.

Merusak Kemuliaan dan Kehormatan Perempuan

Dengan strategi membebaskan perempuan untuk berbuat semaunya, disadari atau tidak, demokrasi sesungguhnya telah merusak kehormatan dan kemuliaan perempuan. Di negara-negara penganut demokrasi dan kebebasan, telah terjadi syndrome pada kaum perempuan yang akhirnya gamang pada kemandirian mereka sendiri. Colette Dowling pernah menulis buku tentang Cinderella Complex, yang diamini oleh kebanyakan perempuan Amerika Serikat. Dowling menulis tentang perempuan-perempuan yang bertopeng keperkasaan, sementara di lubuk hati mereka tetap ingin dilindungi dan bergantung pada orang lain, terutama laki-laki. Inilah kemudian yang dikatakan sebagai ketidakbahagiaan kaum perempuan ketika menemukan kebebasannya.

Di beberapa negeri-negeri Muslim para pejuang hak-hak perempuan mengungkapkan data ketertekanan perempuan pada kondisi kulturnya yang dipandang mengekang kebebasan. Mereka ingin bebas seperti perempuan Barat. Namun, hal yang dicermati di sini, ketika demokrasi telah berhasil menanamkan pemikiran-pemikiran Barat yang menolak kebenaran wahyu pada diri kaum Muslim, maka terjadilah penyimpangan demi penyimpangan. Wanita Muslimah berpikir sebagaimana wanita Barat. Mereka tidak lagi berpikir sebagaimana seorang Muslimah. Wajar saja jika terjadi ketidaknyamanan. Namun, ketika Muslimah mengikuti jalan hidup yang bebas ala masyarakat Barat, mereka hanya akan menemukan kerusakan demi kerusakan.

Dalam Islam, seorang Muslimah terpelihara kehormatan dan kemuliaannya, karena Islam hanya mengikatkannya pada seorang laki-laki yang sah menikahinya dan memerdekakannya dari laki-laki yang lain. Sebaliknya, dalam kebebasan demokrasi, tidak ada seorang pun laki-laki yang berhak melindunginya; ia bebas dieksploitasi, dijamah dan dinikmati keindahannya oleh laki-laki manapun.
Islam memuliakan perempuan dan menempatkannya pada posisi dan peran yang tepat, sesuai kodrat penciptaannya. Perempuan adalah ibu generasi. Di pundaknya terletak tanggung jawab yang besar untuk melahirkan dan mendidik generasi sebagai aset bangsa. Agar peran tersebut berjalan dengan baik, Islam menetapkan sejumlah aturan yang mengatur pola relasi antara laki-laki dan perempuan agar terwujud keselarasan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Aturan-aturan tersebut meliputi hukum tentang pernikahan, hak dan kewajiban suami-istri, kehamilan, kelahiran Islam, penyusuan, jaminan nafkah, pendidikan anak dan lain-lain. Islam juga menetapkan kewajiban negara untuk memelihara dan melindungi tugas mulia ini.

Sesungguhnya Islam telah memuliakan perempuan dan menjaga kehormatannya, dengan konsep dan platform yang jelas. Hal yang tak pernah ada dalam sistem demokrasi sehingga kaum perempuan harus memperjuangkannya sendiri. Persoalannya adalah mereka tak akan pernah menemukannya di alam demokrasi.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.


Kembalinya Khilafah Adalah Bisyarah Nabawiyyah Untuk Kita



KEMBALINYA KHILAFAH ADALAH BISYARAH NABAWIYYAH UNTUK KITA:
Tanggapan atas artikel saudara Agus Maftuh Abegabriel
Kalau kita ikuti tulisan saudara Agus Maftuh yang judulnya Teologi Kekuasaan (JP, Sabtu 27 Oktober 2007), akan mengingatkan kita pada ungkapan Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimahnya, “Al-maghlub muli’un bitaqlidil ghalib” (bahwa yang dikalahkan itu ‘terobsesi’ untuk taklid pada yang mengalahkan). Ungkapan inilah yang tepat untuk membingkai kerangka pemikiran saudara Agus Maftuh. Artinya, pemikiran yang dia usung sebenarnya tidak lebih dari sikap membebek pada Barat yang dipandang oleh sebagian kecil komponen kaum Muslim  sebagai yang paling layak untuk dijadikan ‘model’ dalam menyelesaikan berbagai problematika kontemporer kaum Muslim saat ini.

Tema Teologi Kekuasaan yang diusung oleh Agus Maftuh memang bukanlah pemikiran baru. Pemikiran tersebut merupakan copy-paste dari apa yang dikemukakan oleh Khaled Abou El Fadl. Dalam Midle East Report 2001, El Fahd memaparkan bahwa, menurut dia,  teologi kekuasaan itu berlatar belakang ‘perasaan kalah, frustasi bahkan perasaan teralienasi’ dari komunitas modern.

Secara rinci dia memaparkan bahwa gerakan puritan adalah gerakan yang bermula dari sikap yang penuh dengan nuansa apologetic dengan ciri intellectual self-sufficiency yang cenderung arogan. Mereka beranggapan, Islam mencakup dan telah membicarakan segala-galanya. Isu-isu kontemporer, semuanya telah ada dalam Islam jauh sebelum Barat mengangkatnya. Namun, ketika berhadapan dengan realitas, di mana hegemoni Barat begitu kuat dan institusi medernitas begitu dominan, mereka terjebak ke dalam perasaan kalah, frustasi dan teralienasi.

Selanjutnya, masih menurut El Fadhl, untuk melawan hal tersebut mereka mengembangkan Teologi Kekuasaan  yang bercirikan pada pengangkatan simbol-simbol dan gerakan kekuatan yang tanpa kompromi dan bahkan arogan. Bukan  saja terhadap Barat dan non muslim, tapi juga terhadap sesama muslim yang berbeda aliran. Mereka juga cenderung menolak tradisi dan warisan Islam sehingga aspek kesejarahan Islam yang kaya nuansa menjadi terabaikan. Mereka ingin mengembangkan Islam langsung dari langit. Perspektif tunggal yang mereka miliki mengantarkan mereka kepada ketergantungan terhadap kekuasaan semata. Kekuasaan atau bahkan kekuatan bersenjata lalu menjadi acuan dalam gerakan-gerakan mereka.

Pandangan El Fahd yang diamini oleh Agus Maftuh ini sebenarnya merupakan pandangan khas Barat terhadap agama Kristen. Kesimpulan ini menjadi lebih rajih dengan diskripsi Agus Maftuh yang mengutip pendapat Esther Kaplan yang  secara begitu diskriptif mengambarkan intervensi agama, baca Kristen Katolik,  atas kebijakan Gedung Putih. Sayangnya mindset tersebut ‘dipaksakan’ untuk diberlakukan pada Islam. Padahal Islam sama sekali berbeda dengan Kristen dan kaum Musliminpun tidak memiliki pengalaman traumatik terhadap agamanya sebagaimana Barat terhadap Kristen. Ini adalah analogi yang salah, karena merupakan analogi atas dua obyek yang sama sekali berbeda. Dalam istilah ushul fiqh disebut qiyas ma’al farq. 

Allah menurunkan Al-qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu (QS An-nahl:89). Al-hafidz Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat tersebut dengan mengutip penjelasan Ibn Mas’ud RA: “sungguh bahwa Dia (Allah) menjelaskan dengan Al-qur’an ini semua ilmu dan semua hal”. Pemahaman bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan bukanlah mengada-ada dan bukan sekedar romantisme sejarah apalagi ‘reaksi kecemburuan’ yang berpadu dengan rasa putus asa terhadap realitas kontemporer kaum Muslim saat ini. Bahkan Al-qur’an menegaskan bahwa penerapan hukum Allah dalam seluruh kehidupan ini adalah bagian dari keimanan kita (QS An-nisa’:65).  Maka sungguh tepat ungkapan Hadhratusy syeikh KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim: “…dan sebagaian dari mereka (para Ulama’) menyatakan tauhid itu mewajibkan Iman. Maka tidak ada Iman bagi orang yang tidak ada tauhid pada dirinya. Dan Iman itu mewajibkan syariah maka orang yang tidak ada syariah padanya maka tidak ada iman baginya dan tentunya tidak ada tauhid baginya”.  

Dengan begitu, menjadi suatu yang naïf kalau keinginan kita kaum Muslim, bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia, untuk membebaskan diri kita dari penjajahan dan hegemoni Barat yang kapitalistik serta kembali kepangkuan Islam, dianggap sebagai reaksi kecemburuan yang berpadu dengan rasa putus asa dan perasaan teralienasi dari hiruk pikuk modernitas, atau bahkan mimpi  kolektif yang mustahil. Pasti tidak demikian.  Justru yang  terjadi sebaliknya. Membebek  pada Barat untuk menjawab  berbagai problem kontemporer kaum Muslim lah yang sebenarnya merupakan mimpi yang mustahil. Islam cosmopolitan, Islam yang inklusif, tidak boleh ada monopoli kebenaran  dst. adalah jargon-jargon kosong yang miskin solusi dan sama sekali tidak kompatibel untuk menjawab berbagai masalah baik yang akut maupun yang kronik yang dihadapi oleh kaum Muslim. Jargon-jargon tersebut lebih mencerminkan sikap obsesif untuk membebek pada Barat secara habis-habisan, sembari berhalusinasi bahwa hal tersebut adalah solusi terhadap berbagai problem kontemporer kaum Muslim. Bukankah Ini sama seperti orang yang melihat fatamorgana di tengah padang pasir yang panas? Bukankah itu merupakan sikap yang digambarkan oleh Ibn Khaldun diatas? Sikap orang terjangkit pandemic inveriority complex.

Lagian kalau benar bahwa perjuangan untuk bertahkim pada hukum Allah adalah suatu perjuangan yang mustahil, mengapa Konfrensi Khilafah yang lalu yang diadakan diberbagai belahan dunia dan mendapat respons yang begitu luar biasa dari seluruh komponen kaum Muslim, termasuk Indonesia, direspons oleh George W Bush seperti orang ‘kesetanan’: “We should open new chapter in the fight against enemies of freedom, against those who in the beginning of XXI century call Muslims to restore caliphate and to spread sharia“? Mengapa Bush Jr.  begitu takut pada mimpi?

************

Bagaimana dengan statemen saudara Agus Maftuh bahwa bisyarah nabawiyyah akan datangnya khilafah dalam kitab Daulah Islamiyyah tidak disebutkan rawi atau sumber primernya bahkan dari segi kritik sanad gugur? Ini justru bukti keawaman saudara Agus Maftuh terhadap gaya penulisan para ulama’ fiqh, terutama ulama’ fiqh mutaqaddimin dan ilmu ushulul hadits. Komentar inilah yang atas  ‘phropetic porensic’ ala sudara Agus Miftah atas hadits tentang akan datangnya khilafah.

Saudara Agus Maftuh menyatakan, bahwa bangunan teologi kekuasaan yang diperjuangkan Taqiyudin An-nabhany yang juga pendiri  HTI didasarkan pada hadits tentang khilafah. Namun hadits tersebut tanpa penyebutan rawi ataupun sumber kitab primernya. Sebenarnya  kalau saudara Agus Maftuh familiar dengan gaya penulisan para Fuqaha’ mutaqaddimin tentu apa yang ada dalam kitab Daulah Islamiyyah tersebut bukan suatu hal yang ’surprise’. Para fuqaha’ mutaqaddimin dalam karya-karya mereka lebih sering tidak mencantumkan sanad, baik dengan membuang sebagian sanad atau bahkan seluruhnya. Misalnya Imam Asy-syafi’I RA. dalam  kitab Ar-risalah menyatakan bahwa Rasulullah SAW menetapkan bahwa pencuri buah-buahan dan pondoh kurma tidak menyebabkan (hukum) potong tangan, tanpa menyebutkan sanadnya.

Ulama’ kenamaan di bidang studi hadits Prof Dr M M Al-a’dzami (1980), telah mengkaji secara mendalam fenomena tersebut. Beliau mencatat bahwa dalam kitab-kitab karya ulama-ulama mutaqaddimin, khususnya selain kitab-kitab hadits, secara umum didapati fenomena-fenomena  antara lain:

1.  Membuang (tidak menuliskan) sebagian sanad, untuk mempersingkat pembahasan kitab, dan cukup menyebutkan sebagian dari matan hadits yang berkaitan dengan bahasan itu

2.  Membuang sanad seluruhnya, dan langsung menyebutkan hadits dari sumbernya yang pertama

Kitab Daulah Islamiyyah termasuk kategori kitab fiqih, bukan kitab hadits. Wajar kalau syeikh Taqiyudin An-nabhani mengikuti metode penulisan gaya para fuqaha’ mutaqadimin.

Selanjutnya, masih menurut  saudara Agus Maftuh, bahwa hadits yang dijadikan main base oleh pendiri HTI itu jika dilakukan prophetic forensic akan tampak jelas bahwa dalam perspektif kritik sanad hadits tersebut ternyata ada seorang rawi bernama Habib bin salim al-anshari yang dipertanyatakan dan tidak tsiqah (terpercaya). Menurut informasi kitab Tahdzib al-tahdzib karya Ibnu Hajar Al-asqalani yang merupakan kitab popular dalam mengalisis validitas rawi. Habib bin Salim ini mendapatkan penilaian yang negative dari Imam Bukhari yang menilainya fihi nadzarun dan juga komentar yang senada dari Ibn Adi. Lalu, dia menyimpulkan, dengan demikian hadits tentang teologi kekuasaan khilafah Islamiyyah tersebut dari segi kritik sanad sudah gugur.

Ungkapan saudara Agus Maftuh diatas menggambarkan betapa ‘kemecer-nya’ dia untuk menyerang aktifitas perjuangan untuk mengembalikan syariah melalui Khilafah Islam. Akibatnya dia terjangkiti penyakit jari’an fil fatawa wa I’tha’ul hukmi, padahal sikap ini sangat dijauhi oleh ulama’-ulama’ salaf, bahkan ada menganggap bahwa sikap tersebut mencerminkan ketidak ikhlasan seseorang.

Benarkah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad tersebut dza’if? Benarkah Habib bin Salim Al-anshari tidak tsiqah? Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib Al-hafidz berkata: berkata Abu Hatim tsiqah, berkata Al-bukhari fihi nadzar, berkata Abu Ahmad bin Adi, laisa fi mutuni ahaditsihi haditsun munkar bal qad idhtharaba fii asanidi ma ruwiya ‘anhu (pada matan-matan haditnya tidak ada hadits munkar, tapi telah terjadi ishtirab pada sanad-sanad (hadits) yang diriwayatkan darinya). Kemudian Al-hafidz berkata, saya nyatakan, bahwa Al-ajiri berkata dari abi Dawud tsiqah, dan Ibn Hibban menyebutkan dalam (kitab) Ats-tsiqqat… Sedangkan dalam kitab Taqribut Tahdzib Al-hafidz  berkata laa ba’tsa bihi.

Untuk lebih obyektifnya mari kita perhatikan ungkapan Imam Al-bukhari diatas secara lebih lengkap dalam kitab Tarikhul Kabir. Pada point ke 2606 tercatat, Habib bin Salim Maula An-nu’man bin Basyir Al-anshari dari Nu’man, meriwayatkan darinya Abu Basyir dan Basyir bin Tsabit dan Muhammad Al-muntasyir dan Khalid bin Urfuthah dan Ibrahim bin Muhajir dan dia adalah sekretaris An-nu’man fihi nadzar. Pada point ke 3347, ketika Imam Al-bukhari menyatakan bahwa Yazid bin An-nu’man bin Basyir sebagai sahabat Umar bin Abdul Aziz, beliau mengutip pernyataan Habib bin Salim (yang beliau nilai dengan ungkapan fihi nadzar).

Perlu dicatat bahwa Habib bin Salim al-anshari adalah salah satu rijal dalam shahih Muslim. Imam Muslim (II/598) meriwayatkan hadits tentang bacaan pada shalat ied dan jum’ah dari An-nu’man bin Basyir, melalui sanad Yahya bin Yahya, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq, dari Jarir, berkata Yahya telah memberitahu kami Jarir, dari Ibrahim bin Muhamad bin Al-muntasyir dari bapaknya dari Habib bin Muslim Maula Al-nu’man bin Basyir dari An-nu’man bin Basyir.  Artinya, menurut Imam Muslim, Habib bin Salim Al-anshari memenuhi syarat yang telah beliau tetapkan dalam muqaddimah kitab shahihnya.  Maka bisa dimengerti mengapa Al-hafidz dalam Taqribut Tahdzib menyatakan la ba’sa bihi. La ba’sa bihi menurut Ulama’ ilmu usulul hadits sebagaimana yang diungkapkan oleh As-sakhawi dalam kitab Fathul Mughits secara umum adalah tingkat paling rendah untuk menggolongkan perawi sebagai perawi tsiqah. Ibnu Mu’in, sebagaimana yang dinukil oleh Al-hafidz Ibn Katsir, juga mengungkapkan hal yang senada.

Untuk memahami pernyataan Imam Al-bukhari, fihi nadzar, Al-hafidz ibnu Katsir dalam kitab Al-ba’itsul Hatsits fikhtishari Ulumil Hadits menjelaskan, apabila Al-bukhari berkata tentang rajul(hadits) sakatu anhu atau fihi nadzar artinya fainnahu yakunu fi adnal manazili wa arda’iha indahu, lakinnahu lathiful ibarah fit-tajrih (ada pada tingkat terendah atau beban terberat baginya, tapi dia menggunakan ungkapan yang halus dalam tajrih). Inilah maksud Imam Al-bukhari dengan ungkapan fihi nadzar. Agar lebih diskriptif mari kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Imam At-tirmidzi (IV/54), tentang hadits seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan budak istrinya. Beliau berkata hadits An-nu’man di dalam isnadnya terjadi idhtirab. Beliau juga berkata, saya mendengar Muhammad (maksudnya Al-bukhari) berkata bahwa Qatadah tidak mendengar dari Habib bin Salim hadits ini, tapi dia meriwayatkan dari Khalid bin Urfuthah. Dalam kitab Aunul Ma’bud disebutkan bahwa At-tirmidzi berkata saya bertanya pada Muhammad bin Isma’il (maksudnya Al-bukhari) tentang Khalid bin Urfuthah maka beliau berkata saya menahan diri  terhadap hadits ini. Penjelasan At-tirmidzi ini bisa kita gunakan untuk memahami arah ungkapan Imam Al-bukhari diatas. Logislah  kalau kemudian Imam Muslim, salah satu murid Imam Al-bukhari, mencantumkan hadits yang diriayatkan oleh Habib bin Salim dalam kitab shahih beliau.

Pernyataan Imam Ibnu Adi, laisa fi mutuni ahaditsihi haditsun munkar bal qad idhtharaba fii asanidi ma ruwiya anhu? Dalam kitab Al-kamil fii Dhua’afa’ir Rijal,  Ibnu Adi berkata: “…dan untuk Habib bin Salim hadits-hadits yang diimla’kan untuknya telah berbeda-beda sanadnya, meski pada matan-matan haditsnya bukan hadits munkar tapi terjadi idhtirab sanad-sanadnya apa yang diriwayatkan darinya Habib bin Abi Tsabit…“. Itulah ungkapan Ibnu Adi tentang Habib bin Salim. Dengan demikian tidak ada alasan yang kuat untuk mendhaifkan Habib bin Salim Al-anshari. Adapun indikasi idhtirab yang disampaikan oleh beliau juga bisa dijelaskan dari pernyataan At-tirmidzi diatas. Al-hafidz Al-manawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan dengan mengutip pernyataan Al-hafidz sungguh Habib bin Salim itu ma’ruf (popular) dalam riwayah dan dia adalah Tabi’i yang ma’ruf. Al-hafidz  Al-iraqi dalam kitab Mahajjatul Qarbi ila Mahabbatil Arab menegaskan bahwa hadits ini shahih. Ibrahim bin Dawud Al-wasithi ditsiqahkan oleh Abu Dawud Ath-thayalisi dan Ibnu Hibban, dan rijal sisanya (termasuk) yang dibutuhkan dalam (kitab) shahih.

Khulashatul qaul, adalah tidak benar bahwa bisyarah nabawiyyah akan datangnya khilafah hanya didasarkan pada hadits riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadits-hadits lain yang bil makna sejalan dengan hadits shahih diatas. Misalnya hadits riwayat Muslim. Imam Abdul Wahab Asy-sya’rani, penulis kitab Al-mizanul Kubra, mencantumkan dalam kitab Mukhtashar Tadzkiratil Qurthubi, dibawah judul “apa yang datang tentang khalifah yang ada di akhir zaman yang dipanggil Al-mahdi serta tanda-tanda kemunculannya”, Rasulullah SAW bersabda:

“Bahwa pada masa akhir (zaman) dari akan ada dari umatku khalifah yang ‘menumpahkan’ harta yang tidak terhitung jumlahnya..”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (III/317),  dan Ibnu Hibban (XV/75). Selain itu masih banyak  hadits-hadits  yang lain. Misalnya  hadits tentang akan datangnya khilafah di Baitul Maqdis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (VII/68), Ahmad (V/288), Al-Thabarani (Musnad Syamiyyin,VI/149), Al-baihaqi (IX/169) dan Al-hakim (XIX/186).

Jadi merupakan  suatu kesalahan yang fatal kalau saudara Agus Maftuh menganggap bahwa perjuangan untuk menerapkan hukum melalui khilafah islamaiyyah hanya didasarkan pada hadits dha’if. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam ahmad tentang akan datangnya khilafah adalah shahih. Masih banyak hadits-hadits lain yang bil ma’na menegaskan hal yang sama.

Tentang ungkapan bahwa hadits khilafah hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan tidak didukung oleh kitab-kitab hadits yang lain yang masyhur. Ungkapan ini justru lebih menegaskan keawaman saudara Agus Maftuh di bidang ilmu Musthalahul Hadits. Memang dikalangan ulama’ hadits muta’akhirin, telah sepakat untuk menetapkan lima kitab pokok. Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan an-nasa’I dan Sunan At-tirmidzi. Sebagian ulama’ muta’akhirin yang lain, Al-hafidz Abu Fadhl bin Thahir menggolongkan satu kitab lagi sehingga menjadi Kutub As-sittah. Beliau memasukkan Sunan Ibnu Majah. Pendapat ini diikuti oleh Al-hafidz Al-maqdisi, Al-mizzi, Ibnu Hajar Al-asqalani dan Al-khazraji.

Ini merupakan ikhtiar para Ulama Hadits untuk menentukan grade kwalitas kitab-kitab hadits secara umum. Tentu klasifikasi tersebut tidak mutlak serta  tidak otomatis menafikan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam Kutubul Khamsah atau Kutubus Sittah. Seperti  As-sunanul Kubra karya Al-hafidz Al-kabir Al-baihaqi, shahih Ibnu Huzaimah, Shahih Ibnu Hibban dll.

********

Benarkah musyawarah para shahabat di Saqifah Bani Sa’idah kisruh? Bagaimana seharusnya kita mensikapi musyawarah para shahabat di Saqifah bani Sa’idah? Mari kita renungkan penjelasan Mufassir besar Imam Al-qurthubi dalam tafsirnya Al-jami’ li Ahkamil Qur’an(I/264-265): “…Maka kalau seandainya keharusan adanya imam itu tidak wajib baik untuk golongan Quraisy maupun  untuk yang lain lalu mengapa terjadi diskusi dan perdebatan tentang Imamah. Maka sungguh orang akan berkata:  bahwa sesungguhnya imamah itu bukanlah suatu yang diwajibkan baik untuk golongan Quraisy maupun  yang lain, lalu  untuk apa kalian semua berselisih untuk suatu hal yang tidak ada faedahnya atas suatu hal yang tidak wajib?”.

Terakhir, saya tegaskan bahwa tidak ada politisasi agama di dalam Islam. Allah menurunkan risalah Islam untuk rahmatan lil alamin dengan menurunkan aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Justru semua upaya menyempitkan Islam dengan hanya untuk ibadah ritual atau just for morality adalah upaya mendistorsi ajaran Islam dan menempatkan diri kita layaknya orang Barat memperlakukan agama Kristen. Kalau kita merujuk pada pendapat ulama’-ulama’ muktabar tidak satupun yang mempersoalkan wajibnya bertahkim pada hukum Allah dan  khilafah memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kaum Muslim. Memang ketika kaum Muslim tidak hidup dibawah naungan system Islam banyak sekali pendapat, pemikiran atau konsep yang bertentangan atau bersebrangan dengan Islam baik sharih maupun yang ghairu sharih. Barusan di media, kita dihebohkan dengan munculnya Nabi palsu yang mengaku mendapat wahyu dan menyamakan istrinya layaknya Khatijah ra. Hebatnya ketika dia diwawancarai di salahsatu stasiun TV Swasta dia mengaku sebagai upaya menyelamatkan Islam? Untuk filtrasi, rasanya  tepat kalau kita perhatikan ungkapan Imam Az-zuhri: “isnad itu adalah bagian dari agama kalaulah bukan karena isnad maka sungguh orang akan berkata semaunya”. Adalah suatu keniscayaan kalau kita memperhatikan darimana, dari siapa kita dapatkan dan belajar Islam.


[Musthafa Ali Murtadlo/DPP HTI]

Ilusi Demokrasi nan Disembah-Puja




Ilusi Demokrasi nan Disembah-Puja



Oleh: Apu' Indragiry*


Ilusi pertama:
Suara Mayoritas adalah Suara Tuhan
(Voux Populi Voux Dei)

Inilah janji manis dari genta demokrasi, bahwa rakyat berhak memutuskan segenap keinginannya, dan negara tidak berhak mencampurinya. Namun tidaklah memungkinkan semua rakyat berbicara, maka dibentuklah perwakilan (melalui DPR). Ah, ada-ada saja.

Fakta berbicara:
Apakah benar bahwa rakyatlah yang menentukan?
Kita ambil sampel kecil saja. Kenaikan BBM, Undang-Undang Migas, UUD SDA, BHP, dlsb, apakah rakyat yang menentukan? Apakah mereka menyetujui kenaikan BBM? Apakah rakyat setuju SDA dikeruk orang asing?

Ternyata SEMUA KEPUTUSAN ADA DITANGAN ELIT PENGUASA YANG BERKEPENTINGAN MENGAMBIL UNTUNG DARI TERJUALNYA, SDA, ASET dlsb.

Apakah syariat Islam bisa disodorkan lewat demokrasi? Cobalah kita merenung dari kasus di atas.

Ilusi Kedua:
Agama Tak Turut Campur Dalam Pemerintahan

Inilah fakta yang harus dicermati oleh umat Islam. Suatu saat kami melihat tayangan headline spot di TV One, bahwa Menag mengimbau semua partai yang sedang berkampanye untuk: TIDAK MEMBAWA-BAWA AGAMA DALAM KAMPANYAE POLITIK. Padahal MUI secara nyata IKUT BEKECIMPUNG DI PANGGUNG POLITIK. Inilah ujud asli demokrasi yang tidak KONSISTEN.

Fakta berbicara:
Ketika rakyat sudah capek memilih (tidak mengikuti pemilu dengan GOLPUT) lantaran mereka berpikir, bahwa berkali-kali mengikuti ajang Pemilu hasilnya TIDAK MEMBAWA PERUBAHAN YANG BERARTI. Namun, anehnya MUI dalam sidang IJTIMA’ mengeluarkan fatwanya menakut-nakuti rakyat dengan FATWA HARAMNYA. Seolah-olah rakyat yang tidak mengikuti pemilu (GOLPUT) mereka semua bak memakan daging babi. Padahal mencoblos atau tidak itu adalah hak dari rakyat. Lantas kalau ada paksaan untuk MENCOBLOS apakah layak ihwal ini disebut MEMILIH? Lebih tepat kalau dinamakan INTERVENSI (MEMAKSA) UNTUK MENCOBLOS.

Lantas apa hak MUI ikut cawe-cawe mencebur ke kancah demokrasi? Padahal ada kaidah ‘teologi demokrasi’ bahwa agama tidak berhak mencampuri urusan negara (sekulerisme), dan yang lebih ironis lagi tahun 2005 yang lalu MUI sendiri (JERUK MAKAN JERUK) telah memfatwakan haramnya SIPILIS (demokrasi terlingkup dalam SIPILIS=SEKULERISME-PLURALISME-LIBERALISME).

Lantas mana adagium “Rakyat mempunyai otoritas kedaulatan dengan pepatah ‘SUARA MAYORITAS ADALAH SUARA TUHAN’”

Contoh mutakhir: Kasus Syekh Puji. Apakah hukum formal bisa dan selayaknya menjerat seseorang ketika seseorang itu secara dalil syara’ tetap sah pernikahannya, terlepas dari kontroversi dan sikap berlebihan Syekh Puji sendiri. Padahal dalam demokrasi kita sudah tahu, bahwa pemerintah tidak berhak mencampuri hak individu dalam menjalankan syariat agamanya.

Ilusi Ketiga:

Demokrasi Mensejahterakan dan Mengadilkan

Inilah fatwa demokrasi yang didengung-dengungkan para pengemban demokrasi, bahwa dengan demokrasi rakyat akan adil dan sentosa.

Fakta berbicara:

63 tahun semenjak Indonesia merdeka, bukan kesejahteraan yang didapatkan, namun kemiskinan dan jerat hutang yang memayungi negeri. Almarhum Prof. Mubyarto pernah berkata: “Ekonomi sekarang lebih parah daripada kondisi ekonomi pascapenjajahan.”

Kita lihat, angka kemiskinan melonjak tajam. Jembel-jembel bak lukisan alam yang tak terbantahkan.

ORANG MISKIN DIHARAMKAN KE RUMAH SAKIT. Contoh mutakhir, seorang bayi di RSCM Jakarta tertahan selama 2 bulan di RS, lantaran kedua orang tuanya tidak mampu membayar fee perawatan kepada RS sebesar 30 juta rupiah. Sungguh ironi menyayat hati!

Padahal dalam Islam, KESEHATAN ADALAH WAJIB GRATIS!. Penguasa mesti memberi layanan kesehatan gratis tanpa memandang status.

Fakta selanjutnya, pendidikan tidak terjangkau untuk semua kalangan. Dengan disahkannya UU BHP, maka RAKYAT KECIL HARAM BERSEKOLAH. Bayangkan untuk bisa masuk ke fakultas kedokteran UGM saja harus membayar ratusan juta rupiah. Jadi slogan PENDIDIKAN UNTUK SEMUA hanyalah isapan jempol belaka.

Ilusi Keempat:

Demokrasi Satu-satunya Sistem

Sesungguhnya dalam demokrasi ada kesamaan hak, terlindungnya hukum si miskin.

Fakta berbicara:

Inilah suara kelaliman yang nyata! Sesungguhnya demokrasi modern adalah ciptaan Yahudi (lihat protokol Zionisme, hal 83. Suplemen buku THE INTERNATIONAL JEW, oleh Henry Ford, penerbit Hikmah, Jakarta,2006).

Inilah sistem yang dicangkokkan oleh Yahudi untuk memporakporandakan kesatuan kaum Muslimin (dengan meruntuhkan ke-Khilafahan Utsmaniyah di Turki) melalui gerakan freemansory. Dari gerakan bawah tanah inilah lantas kaum muslimin dipecah-belah hingga berpuluh-puluh bagian (paham nasionalisme) inilah kelicikan Yahudi! Sayangnya hingga kini umat Muslim belum menyadari kesalahannya (masih tersakauw demokrasi CIPTAAN YAHUDI). Dari satu negara (Khilafah Utsmaniyah) hingga kita kini mengenal negara Arab Saudi, Mesir, Yordan, Yaman, Palestina. Siapa dalangnya??? Lagi-lagi mau tidak mau jari telunjuk kita mengarah ke YAHUDI. Dari demokrasi inilah YAHUDI berhasil mecaplok PALESTINA lewat campur tangan PBB (lembaga think-tank Yahudi).

Ilusi Kelima:

Ilusi Tokoh Fiktif Demokrasi

Mereka berbincang tentang kepemimpinan. Dan citra baik dari personal appearance sosok tokoh.

Fakta berbicara:

Mereka membohongi rakyat, tentang arti kepemimpinan sesungguhya. Mereka berlindung di balik 'TOKOH FIKTIF yang mereka cipta dan reka. Bak tokoh utama sebuah novel atau film. Semuanya hanya bualan, fiksi dan rekayasa. Agar mereka bisa meraih kekuasaan seperti apa yang mereka mau. Mereka dengan dana kapitalis yang luarbiasa mendanai kampanye IKLAN, baik di TV, Baliho, Surat kabar, spanduk dan menyembunyikan nafsu hewaniah untuk menangguk untung dari demokrasi. Bahkan di kota Cirebon dan Yogyakarta ada fenomena yang memiriskan, banyak caleg akhwat yang mengenakan kerudung besar dipajang fotonya di pinggir-pinggir jalan bak model fotogenik dengan plus senyumannya, kami tidak tahu bagaimana iffah (kesucian diri) dan muru'ah (kehormatan diri) bisa dipajang disembarang tempat. Wallaahu a'lam


Ilusi Keenam:

Demokrasi Berbiaya Murah

inilah dusta-dusta yang mereka beberkan ke masyarakat yang awam.

Fakta berbicara:

Tiap lima tahun sekali KENDURI DEMOKRASI digelar, tiap lima tahun pula dana puluhan triliun dihamburkan (pemilu), belum lagi untuk uang PILKADA.
Semua tokoh berganti... namun kesejahteraan bak raihan mimpi.

FAKTA KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM:

Kepemimpinan Islam sebagai pembanding:

bayangkan! Jika seorang presiden tidak digaji, gubernur tidak digaji. (lihat kitab, Mafahim Hizb, Syekh Taqiyuddin an Nabhani) apakah kira-kira ada orang yang mau menjadi presiden, wakil presiden, ketua MPR/DPR, anggota DPR/MPR, atau gubernur???

Dalam Islam, seorang khalifah dipilih untuk menjalankan aturan syariat, bukan aturan hukum kufur.

Ia hanya diberi tunjangan (secukupnya) agar hidupnya tercukupi. Beda dengan presiden sekarang yang gajinya ratusan juta per bulan. atau gaji anggota dewan yang per bulannya meraih gaji puluhan juta rupiah.

Kami tantang!! siapa YANG MAU JADI PRESIDEN dan WAKIL PRESIDEN, KETUA MPR/DPR, ANGGOTA DPR/MPR, dan Gubernur yang TIDAK DIGAJI.

Kami yakin seratus persen... semua kandidat CAPRES bakal lari ngibrit, lintang pukang.

Ilusi Ketujuh:

Islam bisa diperjuangkan lewat demokrasi.

Mereka berdalih memilih dharar (bahaya) yang lebih ringan dari dua bahaya daripada Islam masuk ke jurang bahaya jika tidak ada beberapa umat Islam berdakwah lewat parlemen.

Fakta berbicara:
Islam tidak pernah mengajarkan, bahwa untuk MERUBAH SESUATU LANTAS KITA MENCEBUR KEDALAM SESUATU ITU (demokrasi). Inilah dalil yang tidak bersandar kepada Alquran dan Sunah. Bahkan jumhur imam fikih yang masyhur tidak pernah menggunakan dalil maslahat (ISTIHSAN) dalam menggali hukum (ISTINBATH).

Nabi saw. (teladan mulia kita) tidak pernah masuk ke sistem kufur (Quraisy jahili) tetapi ia merubah dari luar sistem kufur itu.

Apakah dalil ketika Nabi Yusuf alaihissalam ketika menjadi menteri keuangan di kerajaan Mesir bisa menjadi dalil untuk umat Islam untuk mencebur ke kancah demokrasi?

Tentu jawabannya tidak bisa. Syariat Nabi Yusuf alaihissalam adalah hanya diperuntukkan untuk kaumnya saja. Kita sebagai umat Muhammad saw. harus menggunakan Alquran dan Sunah Nabi saw., baik qauli (perkataan), taqrir (keberdiaman Nabi) maupun fi'li (perbuatan).

Dalilnya adalah: ketika Umar ibn Khaththab memegang kitab TAURAT, maka muka Nabi saw. Langsung memerah dan bersabda dengan makna begini:
“Andai Musa as. Ada di zamanku, maka ia pasti akan mengikuti jalanku (sunahku).”

Jadi, masihkah memuja ilusi DEMOKRASI?
Masihkah kita berharap pada BERHALA demokrasi-Yahudi?

 
Allaahu a'lam bi ashowaab.

 

Yogyakarta, 27 Maret 2009 10.01

 

* Pujangga Khilafah, Novelis Ideologis, owner klub menulis Dunia Puisi Islami (DPI) dan Sastra of Soul (SOS)

Santri Ma'had Taqiyuddin an Nabhani, Yogyakarta

Abu Abdillah Luqman Ba’abduh [SALAFY INDONESIA]

"Abu Abdillah Luqman Ba’abduh [SALAFY INDONESIA]"

 Ulil Amri Salafi Yang Berkawan Erat dengan kaum kafir harbi yang membantai Jutaan Muslim Iraq dan Afghanistan dan rela serta memfasilitasi tanah Arab Saudi sebagai pangkalan militer AMERIKA yang tangannya berlumuran darah kaum Muslimin.


Apa Komentar Mereka Tentang Ustad Luqman Bin Muhammad Ba’abduh?

Ustad Luqman bin Muhammad Ba’abduh adalah seorang ustad kalangan “salafi” (maaf, kami beri tanda kutip untuk membedakan antara makna salafi yang hakiki dengan kelompok yang mengaku-ngaku salafi). Beliau adalah murid dari Sheikh Muqbil bin Hadi Al Wa’di di Yaman. Ustad Luqman ini adalah da’i yang banyak memberi ceramah maupun kajian yang di antaranya direkam dalam bentuk VCD atau mp3 seperti; “Nasehat Keimanan”, “Hindari Riya”, “Sebab-Sebab Kemaksiatan”, dll. Buku-buku yang ia tulis pun beragam seperti: “Membongkar Kesesatan Hizbut Tahrir”, “Sikap Yang Benar Terhadap Ahli Bid’ah”, dan “Mereka Adalah Teroris.”

TOSSS DULU! TOOOOOSSSSSSSS.............Ana tidak setuju dengan ajaran SYIAH yang mencela para SAHABAT tapi juga tak setuju dengan rezim Saud yang bersahabat dengan KAFIR HARBI yang membantai kaum Muslimin dan memberikan tanahnya untuk pasukan Militer Kafir Amerika.


Apa benar disebut ulil amri jika tanahnya diberikan untuk memfasilitasi tentara Amerika untuk membantai Umat Islam di Iraq, Afghanistan, dll? Pantesan saja Syeikh Osama Bin Laden-pun dijegal oleh rezim Arab Saudi karena paling getol memerangi musuh DIENULLAH sahabat karib rezim Su'udiyah (Kafir Harbi  AS+INGGRIS sahabat dekat Arab Saudi sejak dahulu yakni sejak ikut bersama kafir harbi memerangi dan menggulingkan Khilafah Islamiyah Turki Utsmani/OTTOMAN). Jangan heran para Salafiyun Murjiah mencap para Mujahidin yang memerangi para Thogut/Kafir Harbi AS+SEKUTU sebagai Khawarij atau Anjing-Anjing neraka karena tak rela teman akrabnya yaitu kafir harbi yang membantai umat Islam disakiti.



Buku “Mereka Adalah Teroris” ini terbit pada bulan Oktober tahun 2005. Lahirnya buku ini sebagai bantahan terhadap buku “Aku Melawan Teroris” tulisan Imam Samudra. Di sini tidak akan dibahas tentang isi buku tersebut, namun secara garis besar, buku tersebut mengandung banyak kata-kata yang terkesan tidak sopan dan banyak tuduhan-tuduhan kepada umat muslim seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Islamiyah dan lain-lain. Maka berikut ini kami nukil komentar dari mereka yang tidak menyetujui sikap Ustad Luqman Ba’abduh tersebut baik komentar itu ada hubungannya dengan buku “Mereka Adalah Teroris” atau tidak. Inilah tanggapan mereka:


1. Imam Samudera:

“Semula, ketika saya membaca sekilas buku Mereka Adalah Teroris (MAT) karangan Luqman Ba’abduh, dari gaya bahasanya dan isinya terkesan bahwa penulis buku tersebut adalah seorang yang emosional lagi bodoh. Tetapi saya berpendirian tidak boleh berburuk sangka kepada penulis buku tersebut. Maka akhirnya sayapun membaca halaman demi halamannya…

Subhanallah…, ternyata saya telah salah sangka. Begitu saya baca berulang-ulang, ternyata penulis MAT bukanlah orang bodoh, tapi justru BODOH MUROKKAB (JAHIL MUROKKAB).” (sumber: Sekuntum Rosela Pelipur Lara, hal. 43)

2. Ustad Abu Abdirrahman At Thalibi:

“Seperti kejadian terbaru dengan munculnya buku “Mereka Adalah Teroris” karya dari mereka yang bernama Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Maksudnya sih ingin mengcounter buku Imam Samudera “Aku Melawan Teroris,” namun yang dihantam bukan hanya Imam Samudera, tetapi semua kelompok harako dihantam pula, dan disudutkan sebagai neo-khawarij. Seolah-olah yang lain sesat dan batil dan yang Ahlu Sunnah dan benar adalah kelompoknya saja.” (sumber: Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak; Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi, hal. 3, cetakan pertama)

3. Ustad Ali Ghufron (Mukhlas):

“…Penulis kitab ini (Mereka Adalah Teroris), orangnya adalah suka mensomasi, suka mencela orang, melecehkan para ulama, sembrono. Sembrononya keterlaluan…

…Sheikh Abdullah Azzam dituduh oleh beliau (Luqman Ba’abduh) sebagai seorang khawarij dan ditentukan sebagai anjing-anjing neraka…”
4. Abduh Zulfidar Akaha:

“Buku Al Ustadz Luqman tersebut (Mereka Adalah Teroris), isinya banyak sekali yang berupa tuduhan tidak berdasar, ketidak benaran, dan pembeberan kesalahan para ulama yang terkesan dicari-cari dan tendensius. Belum lagi, kata-kata yang dipergunakan pun cenderung kasar dan tidak santun. Sama sekali tidak mencerminkan akhlaq seorang muslim yang mengaku mengikuti jejak para ulama salafush shalih.” (sumber: Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, hal. xvii)

5. Ustad Ismail Yusanto:

“Setelah membaca majalah As Syariah no. 16/II/1426 H/2005, yang diterbitkan oleh Oase Media, khususnya dua artikel yang ditulis oleh saudara Ruwaifi bin Sulaimi dan Abu Abdillah Luqman Ba’abduh, masing-masing dengan judul: Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan, dan Cara-cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah, terkesan sangat provokatif dan maaf banyak diwarnai kebohongan yang sungguh sangat menyesatkan. Karena itu kami berkewajiban untuk membantah sejumlah kebohongan yang menyesatkan tentang Hizbut Tahris dalam kedua tulisan tersebut.” (sumber: http://www.hayatulislam.net/weblog.php)

6. Abu Salma Al Atsari:

“…saya kurang mengapresiasi ustadz Luqman Ba’abduh yang enggan diajak berdiskusi secara langsung oleh ustadz ‘Abduh. Seharusnya seorang salafy yang ilmiah, dia siap untuk diajak berdiskusi secara ilmiah dan terbuka secara langsung, sebagaimana guru kami, al-Ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat dan Ustadz Abu Qotadah hafizhahumâllâhu, yang siap dan bersedia diajak diskusi secara langsung, ketika beliau berdua diundang oleh PERSIS Jabar.” (sumber: http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/03/11)

Nukilan-nukilan tersebut di atas adalah sebagian contoh dari opini mereka tentang ustad Luqman Bin Muhammad Ba’abduh. Mungkin masih ada lagi di luar sana yang tidak kita ketahui. Akan tetapi pada intinya, ke-enam komentar di atas memiliki kesamaan bahwa mereka tidak atau kurang menyetujui sikap ustad Luqman Ba’abduh. Insha Allah kaum muslimin yang hatinya bersih dari taklid buta kepada sheikh-sheikh atau ustad-ustad tertentu bisa membedakan dengan hati nurani yang suci bahwa perangai beliau adalah kurang baik dalam berbantah-bantahan kepada saudara muslimnya yang tidak sependapat. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa di satu sisi ustad Luqman Ba’abduh mengikuti manhaj salafush shalih, namun di lain sisi ia tidak mencerminkan manhaj seorang salafi.

Semoga dengan adanya artikel ini bisa memberi pelajaran berharga kepada kita semua untuk bisa bersikap lebih baik dalam menghadapi perbedaan terhadap saudara-saudara muslim kita, selama perbedaan itu tidak terletak pada dasar agama yang paling urgent yakni tauhid.
DU’A OF SHEIKH MUHAMMAD AL MOHAISANY | MASJID AL HARAM MAKKAH Doa Qunut ini dibawakan Syaikh Muhammad Al-Muhaisany, seorang Imam yang berasal dari Madinah. Isi dari doa ini secara Global adalah: Mendoakan kekuatan, keteguhan, kesabaran, dan kemenangan kepada Mujahidin dimanapun mereka berada, serta mendoakan kekalahan musuh-musuhnya. Mendoakan kehancuran bangsa yang memerangi kaum muslimin, agar ditimpakan kepada mereka adzab-adzab yang ditimpakan kepada kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah di zaman lampau, agar dikirimkan topan-topan yang tiada henti-hentinya, dan agar dikirimkan kepada mereka bencana apa saja yang keluar dari perut bumi dan yang turun dari langit, disebabkan karena mereka adalah kaum yang jahat, memerangi orang-orang Islam, dan menghina Islam serta Ummat Islam. Mendoakan kebebasan muslimin yang ditawan dan dipenjara-penjara kafir, agar mereka diberikan kekuatan dan kesabaran, dan agar diadzab siapa saja yang menyiksa mereka. Mendoakan kebebasan Al-Quds dari cengkeraman Yahudi, agar supaya kehancuran mereka disegerakan. Mendoakan kembalinya kedigdayaan dan kejayaan Islam dan Ummatnya yang telah dihinakan ini.

diatas adalah cuplikan do’a qunut tarawih 1422 Hijriah, di Masjidil Haram, Mekkah, Saudi Arabia, yang dipanjatkan oleh Syeikh Muhammad Al Mohaisany. Perlu diketahui, setelah beliau selesai memanjatkan doa dan selesai mengimani sholat tarawih, beliau pun ditangkap oleh para petugas thoghut arab saudi untuk dimintai keterangannya. Tak jelas nasib beliau saat ini, apakah masih terpenjara atau sudah bebas. Wallahu’alam…

Bantahan Demokrasi Islam


1. Dalam demokrasi ada musyawarah, sedangkan dalam Islam ada syura. Sehingga Islam membolehkan demokrasi.


Syuro dalam Islam sangat berbeda dengan musyawarah dalam sistem demokrasi. Syuro hanya membahas perkara-perkara yang sifatnya mubah. Dalam syuro tidak dibahas hukum-hukum yang qath’i.

Juga dengan menyamakan satu sisi dari dua perkara yang sangat berbeda, amatlah tidak tepat. Menyamakan antara Islam dan demokrasi hanya dalam masalah musyawarah, tanpa melihat sisi lainnya. Seperti makna demokrasi, yaitu pemerintahan dari rakyat. Yang berhak membuat hukum adalah rakyat. Sedangkan Islam, yang berhak membuat hukum hanyalah Allah. Manusia hanya menjalankan saja. Begitu pula kita tidak bisa menyamakan antara manusia dengan monyet hanya karena masing-masing memiliki tangan, atau mobil dengan becak hanya karena masing-masing memiliki roda.


2. Allah bermusyawarah dengan malaikat ketika ingin menciptakan manusia seperti dalam surat Al Baqarah ayat 30.


Surat Al Baqarah ayat 30 Allah mengabarkan kepada malaikat, bukan suatu pertanyaan yang meminta pendapat kepada malaikat. Ayat ini ditegaskan dalam awal kata إِنِّى . Sehingga ayat ini bukan bentuk kalimat tanya, yang merupakan pertanyaan Allah (meminta saran) kepada malaikat.


3. Dulu Rasulullah menolak sistem kufur karena disuruh meninggalkan akidah dan dakwah islam. Sekarang berbeda, kita tidak dipaksa meninggalkan akidah kita, bahkan kita bisa mendakwahkan mereka.


”Demi Allah...wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-nya”.


Kalimat ini diutarakan kepada pamannya Abu Thalib yang telah diutus oleh para pembesar Quraisy, agar Rasulullah berhenti ”menyerang” Tuhan-Tuhan mereka.

Dalil penolakan Rasulullah kepada sistem kufur adalah Rasulullah sama sekali tidak ikut bergabung di Darun Nadwah.

Darun Nadwah adalah suatu tempat bertemunya para pembesar Quraisy untuk memusyawarahkan suatu kebijakan yang akan diterapkan ditengah-tengah masyarakat Quraisy. Pada saat sekarang ini adalah parlemen.


4. Dalam demokrasi pemilihannya dengan pemilu, Islam pun sama.


Pemilu adalah sarana untuk memilih pemimpin. Hukum asal sarana adalah mubah. Namun ada kaidah ushul fiqh yang menyebutkan :

“Sarana yang dipergunakan untuk keharaman, maka hukumnya menjadi haram”.

Pemilu yang hukum asalnya mubah, namun dipergunakan untuk melanggengkan demokrasi karena menganggap boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum selain Allah, maka pemilu tersebut hukumnya haram.


5. Kalau tidak mau ikut demokrasi, opsinya ya cuma REVOLUSI atau KUDETA.


Rasul tidak pernah mencontohkan hal ini. Yang Rasul lakukan adalah Revolusi pemikiran. Dalam perjuangannya Rasulullah menggunakan kekuatan fikrah dan ketajaman lisan. Rasul tidak pernah menggunakan kekuatan otot atau mengangkat senjata. Sebagaimana Rasulullah ketika melihat keluarga Yasir sedang disiksa. Yang Rasul lakukan hanyalah menyeru kepada keluarga Yasir untuk bersabar. Dan juga ketika mendengan Bilal bin Rabbah disiksa oleh majikannya, Rasul pun diam. Kemudian dengan inisiatif sendiri, Abu Bakar pergi dan membeli Bilal yang kemudian membebaskannya sebagai budak.

Jika kita menggunakan cara Revolusi fisik dan Kudeta, itu sama hal nya kita melakukan cara kufur seperti demokrasi. Juga kalau menggunakan kekuatan fisik, maka bisa langsung diberangus. Namun jika dengan menggunakan kekuatan fikrah, orangnya bisa diberangus, tapi pemikirannya akan terus berkembang.


6. Kalau kaum muslimin tidak mau mengikuti pemilu, maka parlemen akan diisi oleh orang-orang kafir. Dan ini sangat berbahaya, sebab mau ngaji susah, harus ngumpet-ngumpet dulu. Mau kutbah susah, teksnya harus diperiksa intel dulu. Mau pake jilbab susah. Ustadz banyak yang ditangkap.


Dalam menjawab statement ini ada beberapa point yang perlu kita perhatikan :

a. Kaum muslimin di Indonesia ada sekitar 80% dari total penduduk Indonesia. Kalau semua kaum muslimin itu sadar untuk menolak demokrasi dan hanya menginginkan tegaknya khilafah Islam, maka hasil pemilu itu hanya 20 % suara saja, dan itu tidak legitimate alias tidak sah. Jadi kekhawatiran bahwa DPR akan diduduki oleh orang2 kafir itu tidak akan terbukti, itu hanya sekedar kekhawatiran berlebih saja.

b. Kalau seluruh kaum muslimin menginginkan tegaknya khilafah dengan meninggalkan demokrasi berarti sama hal nya menolong agama Allah swt. Dan ketika seluruh kaum muslimin itu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Allah telah berjanji dalam firmannya surat Muhammad ayat 7 :


يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوۤاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ


Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.


Dan surat Al-Imran ayat 160 :


إِنْ يَنْصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا ٱلَّذِى يَنْصُرُكُمْ مِّنْ بَعْدِهِ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ


Artinya :

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.


7. Dulu Nabi Yusuf masuk ke dalam sistem, dengan menjadi bagian kerajaan Fir’aun mengurusi logistik.


Juga firman Allah swt:


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلآخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيراً


"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah)." (QS Al Ahzab: 21)


قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


"Katakanlah: 'Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS Ali Imran: 31)


ْ وَمَآ آتَاكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُواْ


"Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah." (QS Al Hasyr: 7)


Ada Hadits Rasulullah saw :

Syari'at sebelumku adalah bukan syari'atku.


Dalam hadits yang lain :

Siapa saja yang melakukan amal tanpa sesuai dengan petunjukku, maka amal tersebut tertolak.


Begitu pula kisah Umar bin Khattab yang ditegur oleh Rasulullah karena kedapatan membaca kitab Taurat. Rasulullah berkata kepada Umar :

”Andai saja saudaraku masih hidup, niscaya dia akan mengikutiku”


Sehingga kisah Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah saw hanya bisa kita ambil ibrahnya saja. Tidak boleh kita ambil sebagai syari'at, kecuali dilakukan kembali oleh Rasulullah saw.


Seperti halnya syari'at Nabi Sulaiman yang merajai hewan dan jin, tidak boleh kita lakukan.


8. Ini hanya perkara ijtihad saja dalam dakwah.


Ijtihad adalah proses menggali hukum syariat dari dalil-dalil yang bersifat zhanni dengan mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan hingga tidak mungkin lagi melakukan usaha lebih dari itu.

Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 40 :


إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ


Sesungguhnya hukum itu milik Allah.


Ayat ini bersifat qath’i, bukan dzanni. Sehingga perkara hanya Allah lah yang berhak membuat hukum, dan tidak boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum itu bukan wilayah ijtihad.


9. Lebih baik menjadi pemain di lapangan, dari pada berteriak-teriak di luar lapangan.


Analogi ini tidak bisa digunakan untuk membedakan perjuangan di dalam ataupun di luar sistem. Sebab :

a. Belum lagi jika kita mau teliti bahwa yang namanya pemain itu mereka hanya bermain sesuai aturan yang telah dibuat oleh orang-orang yang berada di luar lapangan. Salah benarnya pemain dalam bermain di lapangan itu berdasarkan dengan aturan yang telah dibuat. Tidak ada satu fakta pun yang menyebutkan bahwa pemain di lapangan membuat kesepakatan baru tentang aturan main.

b. Tidak ada contoh fakta sejarah yang membuktikan bahwa keberhasilan perjuangan itu dilakukan dari dalam sistem. Seperti perjuangan dakwah Rasulullah dilakukan di luar sistem. Pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Habasyah karena rajanya telah memeluk Islam, juga dilakukan dari luar sistem. Jatuhnya Rezim Soeharto juga dilakukan dari luar sistem

c. Amal itu akan diterima jika dua hal terpenuhi yaitu, niat ikhlash dan sesuai tuntunan. Jika salah satu tidak dipenuhi, maka amal tersebut tertolak. Rasulullah sama sekali tidak pernah mencontohkan berjuang melakukan perubahan berasal dari dalam sistem. Meskipun niat ikhlash, tapi berjuang melalui dalam sistem yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah, maka amal tersebut tertolak.


10. Begitu banyak UU yang sesuai syari’ah telah dihasilkan dari berjuang melalui sistem, seperti UU Pornografi, dll. Sedangkan jika berada di luar sistem, tidak bisa melakukan apapun.


Syuro’ dalam Islam hanyalah membahas masalah-masalah yang hukumnya mubah. Syuro’ tidak membahas hukum-hukum yang bersifat qath’i. Pornografi dan pornoaksi adalah aktifitas membuka aurat. Sedangkan aurat dalam Islam adalah suatu yang qath’i. Sehingga tidak perlu lagi dimusyawarahkan apakah itu halal atau haram, apakah itu wajib diterapkan atau tidak.


Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 7 :


وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَق ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً


Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya...


Kalau kita lihat lebih lanjut, ayat tersebut menyebutkan dengan kata lebih baik amalnya. Bukan lebih banyak amalnya. Baik-buruk itu semua dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika Allah mengatakan bahwa إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ Sesungguhnya hukum itu milik Allah, maka itu baik. Sedangkan yang menganggap bahwa boleh ada pihak lain yang berhak membuat hukum selain Allah (termasuk manusia) adalah buruk. Dan juga yang perlu kita perhatikan adalah Allah tidak melihat hasil, melainkan melihat ikhtiar manusia. Jika ikhtiarnya bertentangan dengan perintah-Nya, maka ini akan berdampak dosa. Jika ikhtiarnya sesuai dengan perintah-Nya, maka akan berdampak pahala.


Begitu pula, antara UU yang pro syari’ah dan kontra syari’ah, sesungguhnya lebih banyak UU yang kontra syari’ah yang dihasilkan. Kita lihat saja UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Minerba, dan masih banyak lagi.


11. Yang penting disana ada mashlahat


Di dalam hukum syari’at itu terdapat mashlahat. Jadi logikanya harus dibalik, menjalankan sistem syari’at dulu baru kita temukan mashlahat.


12. Lalu kenapa anti masih ada di indonesia ? Pakai KTP, pakai uang kertas, harus ada NPWP, hrus mematuhi peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah yang notabene pemerintahan demokrasi. Klo mematuhi peraturan tersebut bukannya secara tidak langsung sudah melancarkan prosedur peraturan yang dibuat oleh para legislatif negara yang menganut demokrasi ?


Mengenai di Indonesia, karena itu merupakan Qadha Allah kita dilahirkan di Indonesia, atau di Irak, dll. Indonesia itu berada di bumi Allah, jadi jika tidak setuju dengan tuntunan Rasulullah dengan dakwah di luar sistem, berarti tidak setuju dengan Allah. Jika tidak setuju dengan Allah, maka mengapa masih berada di bumi Allah ? Mengapa tidak mencari planet lain yang bukan milik Allah ?


Mengenai KTP, itu masalah administrasi yang hukumnya mubah. Dilaksanakan atau tidak maka tidak berdampak kepada pahala dan dosa. Ini berbeda dengan ketika khalifah yang menetapkan, amal mubah akan berdampak pahala jika dilaksanakan karena ketaatan kita kepada amirul mukminin.


Tentang Uang kertas dan NPWP, ini adalah bentuk kedzaliman yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya. Rasulullah memberikan tuntunan kepada kita bahwa pecahan uang hanyalah dengan emas dan perak yang mengandung nilai intrinsik dan tidak menimbulkan inflasi. Sedangkan Pajak dalam Islam dilakukan ketika kas Baitul Maal kosong, sementara negara membutuhkan dana secara mendesak untuk kepentingan fii sabilillah, maka pada saat itu negara boleh menariki pajak kepada warga negara. Jika kondisi kas baitul maal sudah normal, maka negara (khalifah) haram menariki pajak kepada warga negaranya.

Justru seharusnya kita tidak ridha diperlakukan seperti ini. Jika kita ridha, maka kita sama halnya meridhai syari’at Allah dicampakkan.


13. Kita harus bersikap Husnudzon kepada kaum muslimin yang berjuang di dalam sistem tersebut


Husnudzon dilakukan ketika kita tidak mengetahui betul tentangnya. Namun dalam parlemen itu aktifitasnya memusyawarahkan dalam rangka membuat hukum, sementara tidak ada satupun orang yang tidak mengetahuinya, maka sikap husnudzon tidak diperlukan lagi. Karena ini merupakan kemunkaran yang nampak jelas dihadapan kita. Sebaliknya, kita harus menasehati mereka yang berjuang di dalam sistem.


14. Jangan membuka aib saudaranya (ghibah).


Dalam kitab Riyadhus Sholihin disebutkan ada enam kondisi ghibah yang diperbolehkan :

a. mengadukan kezhaliman (at-tazhallum). Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa, qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun pihak yang berwajib lainnya.

b. permintaan bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiyat pada kebenaran (al isti'ânah 'ala taghyîril munkar wa raddal 'âshi ila ash shawâb).

c. permintaan fatwa (al istiftâ`). Misal seseorang mengatakan kepada seorang mufti (pemberi fatwa), ayahku (atau saudaraku atau suamiku atau fulan) telah menzhalimi aku dengan cara begini. Lalu apa yang harus aku perbuat padanya ?; bagaimana cara agar aku terlepas darinya, mendapatkan hakku, dan terlindung dari kezhaliman itu ?

d. memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap suatu keburukan dan menasihati mereka (tahdzîrul muslimîn min asy syarr wa nashîhatuhum). Ini ada beberapa bentuk, diantaranya adalah menyebutkan keburukan sifat orang yang memang pantas disebutkan keburukannya (jarhul majrûhîn) yakni dari kalangan para perawi hadits dan saksi-saksi (di pengadilan, red)

e. seseorang memperlihatkan secara terang-terangan (al- mujâhir) kefasiqan atau perilaku bid'ahnya sebagaimana orang yang yang memperlihatkan perbuatan minum khamr, menyita, mengambil upeti, pengumpulan harta secara zhalim, memimpin dengan sistem yang bathil.

f. penyebutan nama (at-ta'rîf). Jika seseorang telah dikenal luas dengan nama laqab (julukan) seperti al-A'masy (Si Kabur Penglihatannya) atau al-A'raj (Si Pincang), atau al- Ashamm (Si Tuli), al-A'maa (Si Buta), al-Ahwal (Si Juling), dan lain sebagainya maka boleh menyebut nama mereka dengan sebutan itu.


15. Mendakwahkan Islam di dalam parlemen.


Mendakwahkan Islam tidak harus ikut aktif di dalam parlemen, bisa saja kita membuat janji kepada anggota parlemen di kantornya atau di suatu tempat, kemudian kita mendakwahkan. Sehingga bukan berarti jika kita ingin mendakwahkan Islam kepada pelacur, maka kita harus berzina dulu dengan pelacur tersebut.


16. Paling tidak bisa mewarnai di dalam sistem.


Rasulullah menyuruh kita untuk melakukan perubahan, dari kemunkaran kepada al-haq. Rasulullah sama sekali tidak pernah mengajarkan kepada kita agar Islam menjadi pewarna di dalam sistem kufur. Rasulullah tidak pernah bergabung di Darun Nadwah hanya untuk mewarnai Islam di sana.


17. Sudahlah, kita harus saling menghormati satu sama lain.


Biasanya ini adalah senjata pamungkas dari para penikmat demokrasi, karena sudah kehabisan argumentasi. Jika kita tinjau kembali bahwa aktifitas berdakwah melalui parlemen adalah suatu aktifitas keharaman. Maka seharusnya kita tidak boleh memberikan toleransi sedikitpun terhadap aktifitas pembangkangan terhadap ketetapan Allah yaitu bahwa hanya Allah lah yang berhak membuat hukum, bukan manusia. Jadi tidak boleh ada toleransi sedikitpun terhadap aktifitas seperti ini. Jika kita toleransi, maka sama hal nya kita toleransi perzinahan dilokalisasi, kita toleransi khamr di legalkan, dsb.

Wallahu a’lam. (Raden Mas Bejo/globalkhilafah.blogspot.com).

Seorang Pemuda Dan Bidadari Bermata Jeli



kisah-pemuda-dengan-bidadari

Kiandan City- Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”
Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”
Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.” Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu ’alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”
Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.
Ketika kami sedang duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.” Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu.” Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.
Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu telah tiba.’ Kemudian aku berkata, ‘Assalamu ‘alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’
Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah telah datang suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahai waliyullah, kami ini sekedar budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan terus.’
Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan maju ke depan.’
Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silahkan maju lagi.’
Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di se-buah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’
Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat datang waliyurrahman, telah hampir tiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘
Seketika itu aku bangun dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini aku sudah tidak bersabar lagi, ingin bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.”
Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga lelaki itu.
Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya aku lihat, tubuhnya berlu-muran darah sementara bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”
(Tanbihul Ghafilin, 395)